Tips Merayakan Valentine untuk Remaja

Jagat Remaja. Bukankah setiap tahun meski kita enggan, tapi saat memasuki bulan Februari pasti ada tanggal 14 yang diperingati sebagian orang sebagai “hari kasih sayang” terutama untuk kalangan remaja.

Walaupun kita enggan mempersoalkan valentine, tetapi untuk kalangan anak muda serta yang masih remaja, tanggal 14 Februari selalu dinantikan. Dan kita sebagai bagian dari mereka, harus bisa memahami, merangkul, serta membimbing mereka agar tidak sampai berlebihan dalam merayakan valentine.

Sebab, untuk mereka yang masih remaja dengan darah muda yang masih menggelora tentunya tidak bisa dilarang dengan mengatakan bahwa merayakan valentine itu haram, tidak baik, serta buang-buang energi saja karena semestinya hari kasih sayang dirayakan setiap hari bukan setahun sekali.

Namun, biasanya kalau anak muda semakin dilarang maka akan semakin menjadi - jadi, berbuat nekat adalah ciri khas dari seorang remaja yang sedang labil untuk penunjukkan jati dirinya. Pernah mendengar ketika ada orang tua yang melarang anaknya agar tidak perlu merayakan valentine, tetapi dengan lugas oleh sang anak malah balik bertanya.

“Ibu/ Ayah, memang dulunya gak pernah merasakan muda ya?”

Atau juga, “Ibu/ Ayah sewaktu pacaran diam-diaman saja bagai patung?”

Dan, “Ibu/ Ayah sekarang kan bukan zaman Siti Nurbaya, dimana Orang tua memegang kendali penuh atas anaknya. Kini era millenium dengan Demokrasi di segala bidang, termasuk kebebasan memilih cinta untuk kami, sang anak…”

*   *   *

Ketiga kalimat diatas hanya sebagai perumpamaan saja yang saya tulis, ketika saya sedikit mengamati prilaku kawan-kawan remaja di sekitar tempat tinggal saya. Bukan bermaksud bombastis, vulgar atau melawan orang tua, tetapi pada kenyataannya itulah reaksi dari anak muda ketika kedua Orang tuanya melarang untuk merayakan valentine.

Tiga pertanyaan balik dari sang anak ketika dilarang Orang tuanya, adalah kartu truf mereka saat-saat menjelang valentine. Sebagai orang tua, kita bisa berkilah bahwa dulu di era 80-90an tidak ada itu yang namanya valentine lah, atau merayakan hari kasih sayang segala, bla-bla-bla…

Tetapi anak sekarang yang sudah banyak mengenal teknologi pasti  telah mempersiapkan jawabannya, “Itu kan zaman dulu, saat ‘kuda masih gigit besi’ sekarang zaman modern Bu/ Yah, kudanya sudah makan burger sama pizza.” Atau bisa saja mereka berkata, “lagian dulu kan belum ada internet, facebook, chattingan, atau emailan masih nol, yang ada cuma kirim-kirim surat yang sampainya bisa seminggu kemudian…”

Setelah mendengar argumen mereka, apa reaksi kita dari Orang Tua?

Tentunya akan marah kalau mengetahui anaknya melawan seperti itu, bahkan sampai membangkang dengan memutar balikkan pertanyaan. Namun kalau kita sendiri mau jujur (-Maaf, saya sendiri belum berkeluarga, jadi ini hanya sekadar menuliskan yang saya dapat) sebagai orang tua, dahulunya pun pernah merasakan jatuh cinta, entah itu cinta pertama, kedua, ketiga hingga mungkin sampai angka kesepuluh.

Dalam lubuk hati yang paling dalam juga menyadari, meski tidak membenarkan pernyataan sang anak, tetapi mereka pun tidak salah. Karena memang zaman telah berubah, dulu valentine sama sekali tidak dirayakan bahkan terkesan biasa-biasa saja layaknya hari biasa. Tetapi sekarang tentu berbeda jauh, seiring dengan perkembangan zaman yang pastinya bergerak dan tidak stagnan maka valentine menjadi sesuatu yang diharapkan oleh sang anak dan beberapa remaja lainnya.

Percuma saja kalau dilarang, bahkan mengunci kamar sang anak, malah yang ditakutkan akan menimbulkan sikap pemberontakan dari anak itu sendiri yang memang sedang masa-masanya ingin menunjukkan jati diri mereka. Sebagai Orang tua yang sayang pada anaknya, tentu mengharapkan yang terbaik dari mereka, bukan hanya mengekang tapi harus memberikan kebebasan berekpresi untuk sang anak, dalam artian bebas tapi tidak kebablasan.

Sebab, kebahagiaan anak adalah kebahagiaan orang tua juga. Jangan sampai dengan dalih melarang valentine untuk kebaikan sang anak malah akan membuat mereka menjadi galau, labil dan memberontak…

*   *   *

Untuk itu, saya yang pernah merasakan masa-masa remaja yang penuh gejolak dan juga sebagai seorang yang sedang dalam masa transisi menjadi Orang tua. Punya sedikit pengalaman pribadi mengenai hari valentine yang meski tidak dinantikan tetapi tetap ada setiap tanggal 14 Februari.

- Jadikan valentine itu ibarat Cinta Pertama, bukan Malam Pertama!
Walaupun sama-sama ada kata “pertamanya” tapi perbedaan diantara keduanya sangatlah jauh laksana bumi dan langit. Kalau merayakan valentine seperti cinta pertama, tentu terasa indah ditemani cahaya gemerlapan di sebuah kafe dengan diisi obrolan, dan saling curhat masa lalu. Namun, kalau diibaratkan malam pertama, itu yang gawat. Sebab bisa indah di awal, namun sengsara di kemudian hari…

- Valentine hanya sebatas tukar-tukaran Kado, tidak lebih!
Entah itu cokelat, permen, atau boneka itu hal yang wajar dan sering dilakukakan remaja mulai dari anak Smp, Sma hingga yang sudah kuliah sekalipun. Asal jangan tukar menukar harta yang paling berharga milik kita, sebab itu sama saja bukan merayakan tetapi menjerumuskan.

- Jadikan tanggal 14 Februari sebagai penyemangat bukan penyengat!
Untuk yang masih muda, terutama remaja pria biasanya bila sedang jatuh cinta pada lawan jenis akan mengungkapkannya di hari valentine. Dengan menembak sang pujaan hati tepat pada momen spesial tentu akan terasa istimewa, terlepas itu diterima atau tidak. Nah apabila sudah diterima tentunya akan sangat dikenang sebagai cinta pertama yang sangat berkesan, asal jangan sampai kebablasan hingga berbuat yang tidak-tidak.

- Tidak semua orang merayakan hari kasih sayang, hormatilah perbedaan.
Jangan sampai kita yang masih muda merayakan valentine dengan suka cita yang berlebihan, bebas berekspresi boleh saja sebab itu hak setiap warga negara. Tetapi ingat juga, “lain lubuk lain belalang” ada beberapa daerah tertentu meski tidak melarang perayaan valentine, tetapi juga membatasinya dengan ketat. Jangan sampai keasyikan berduaan dengan kekasih, maka di gerebek warga setempat karena merayakan hingga larut malam…

- Usahakan agar valentine itu hanya sebagai hari kasih sayang, bukan hari sayang-sayangan!
Nah ini yang terkadang sulit dilakukan apabila kedua anak manusia sedang dimabok cinta hingga kepayang. Pegang-pegangan tangan diantara keduanya tanpa harus berbuat yang lebih. Diperlukan pemahaman lebih lanjut mengenai hari kasih sayang tersebut agar tidak menjadi salah kaprah. Disinilah peran Orang tua, sebagai benteng utama untuk memberikan filter berupa penjelasan kepada putra-putrinya agar tidak sampai berbuat yang melebihi batas.

- Valentine itu tidak harus dirayakan, sebab setiap hari adalah hari kasih sayang.
Untuk beberapa remaja yang sedang galau, terkadang memaknai valentine sebagai hari yang ditunggu-tunggu. Tidak salah juga, karena tanggal 14 Februari dalam setiap tahun hanya jatuh sekali. Tetapi hanya dalam kewajaran saja, menyiapkan busana terbaik  untuk menjaga penampilan sekadar makan berduaan dengan pacar adalah lumrah. Jangan sampai terlalu bersemangat dengan menyediakan hal-hal lainnya yang malah menjurus kepada perbuatan yang aneh-aneh.

*   *   *

Beberapa dari tulisan diatas hasil obrolan dan chatting dengan berbagai kawan, baik yang sudah menjadi Orang tua serta remaja yang masih sekolah. Tidak bermaksud lebih atau bahkan terkesan menggurui, hanya sekadar mengambil jalan tengah mengenai pemahaman valentine diantara Orang tua dan sang anak. Karena, benar atau tidaknya berpulang kepada diri kita masing-masing…

Semoga bermanfaat.

No comments:

Post a Comment